Sabtu, 28 Agustus 2010

10 Resep Hidangan Seafood Populer Nusantara

Negara kita memang kaya akan hasil laut, tak salah hingga hampir seluruh propinsi mempunyai masakan seafood yang semuanya lezat dan menggoda selera.
Bagi Anda penggemar seafood, Cobalah membikinnya sendiri. 10 resep seafood popular nusantara hanya untuk Anda. Pilihanya ada Pindang Serani, Japit Udang, Palai Bada, Gulai Ikan, Kare Kepiting, Dabu-Dabu Sesi, Pallu Mara Cakalang, Kenus Mebase, Ikan Mas Woku dan Sate Bandeng. Coba salah satunya dan sajikan buat keluarga tercinta. Selamat Mencoba!

Resep Budi Sutomo & Foto: Budi Sutomo

1. Pindang Serani (Jawa)

Bahan:

500 Bandeng, bersihkan, potong-potong
2 btg serai, memarkan
2cm lengkuas memarkan
3 cm jahe, iris serong tipis
4 cm kunyit iris serong tipis
7 bh bawang merah, iris tipis
2 bh tomat,belah
5 buah belimbing wuluh, belah dua
800 ml air
1 sdt gula pasir
1 sdt garam

Cara Membuat:

1. Lumuri potongan ikan dengan air jeruk nipis dan garam, biarkan beberapa saat agar bumbu meresap.
2. Didihkan air, Masukkan semua bahan kecuali ikan. Rebus hingga mendidih.
3. Masukkan Ikan, masak dengan api kecil hingga ikan matang. Angkat dan sajikan
Untuk 4 Porsi


2. Japit Udang (Madura)

Bahan:
400 gr udang besar, bersihkan
150 ml santan kental
Jepitan bambu/tusuk sate
Haluskan:
8 buah cabai merah
1 cm kencur
4 bh kemiri, sangrai
7 bh bawang merah
4 bh bawang putih
1 sdt gula pasir
1 sdt garam
Cara Membuat:
1. Bumbui udang dengan bumbu yang sudah dihaluskan. Diamkan beberapa saat agar bumbu meresap.
2. Jepit/tusuk udang dengan tusukan sate. Bakar di atas bara api sambil sesekali diolesi bumbu. Setelah matang dan kecokelatan, angkat dan sajikan sebagai lauk.
Untuk 3 Porsi

3. Palai Bada
(Sibolaga)

Bahan:
600 gr teri nasi/medan
1 butir telur, kocok lepas
½ butir kelapa parut, sangria, haluskan
2 lembar daun mangkokan, iris halus
½ lb daun kunyit, iris halus
6 lembar daun kemangi
2 batang serai, iris halus
2 sdm air jeruk nipis
Daun pisang secukupnya
Haluskan:
6 buah cabai merah
7 butir bawang merah
2 cm jahe
2 cm kunyit
Cara Membuat:
1. Campur teri dengan kelapa sangria, telur dan bumbu-bumbu. Aduk rata.
2. Siapkan daun pisang, masukkan dua sendok makan adonan. Bungkus menyerupai pepes dan semuat dengan lidi kedua ujungnya. Lakukan hingga adonan habis.
3. Kukus palai bada selama 15 menit. Angkat. Panggang di atas bara api hingga daun pisang kecoklatan. Angkat dan sajikan.
Untuk 5 Porsi


4. Gulai Ikan (Sumatra)

Bahan:
1 kg kakap/tongkol/kembung, bersihkan, potong-potong
1500 ml santan dari 1 butir kelapa
2 batang serai, memarkan
20 lembar daun kemangi
2 lembar daun mangkokan
60 gr kecombrang, iris halus
1 cm lengkuas, memarkan
2 sdm air asam
1 sdt garam.
Haluskan:
6 buah cabai merah
7 siung bawang merah
3 cm kunyit
2 cm jahe
Cara Membuat:
1. Panaskan santan dengan bumbu halus. Masak sambil di aduk hingga mendidih.
2. Masukkan ikan, kecombrang dan air asam. Masak api kecil hingga ikan matang dan kuah mengental. Angkat dan sajikan.
Untuk 4 Porsi


5. Kare Kepiting (Jawa Timur)

Bahan:
1 kg kepiting, bersihkan dan memarkan cangkangnya
100 gr buncis, potong 2 cm
300 ml santan kental
800 ml santan cair
3 sdm minyak goreng
Bumbu:
2 cm laos, memarkan
2 cm jahe, memarkan
2 helai daun jeruk
2 lembar daun salam
1 sdt gula pasir
½ sdm air asam
1 sdt garam
Haluskan:
8 siung bawang merah, haluskan
4 siung bawang putih, haluskan
½ sdm ketumbar sangrai dan haluskan
4 buah kemiri, haluskan
3 cm kunyit, bakar dan haluskan
1 sdt merica, sangrai
¼ sdt jintan, sangrai dan haluskan
1 sdt terasi, sangrai dan haluskan
Cara Membuat:
1. Panaskan minyak, tumis semua bumbu sampai harum. Masukkan kepiting, masak sampai kepiting berubah warna. Tambahkan santan cair. Masak sampai mendidih.
2. Tuang santan kental, rebus hingga kuah mengental. Sesaat sebelum diangkat, tambahkan buncis dan air asam. Angkat dan hidangkan.
Untuk 4 Porsi


6. Dabu-Dabu Sesi (Ambon)

Bahan:
500 gr ikan kembung
3 sdm air jeruk nipis
1 sdt garam
100 ml air
Bumbu, bakar dan tumbuk kasar:
5 siung bawang merah, bakar, tumbuk kasar
200 gr tomat, bakar, haluskan
5 buah cabai merah
Cara Membuat:
1. Kerat permukaan ikan, lumuri dengan air jeruk nipis dan garam. Biarkan beberapa saat.
2. Bakar ikan di atas bara api hingga kecokelatan. Angkat, sisihkan.
3. Campur semua ikan dengan campuran bumbu dan air. Rebus hingga air terhisap habis. Angkat dan sajikan.
Untuk 4 Porsi


7. Pallu Mara Cakalang.
(Makasar)


Bahan:
600 gr ikan cakalang, bersihkan, potong-potong
3 sdm minyak goreng
1200 ml air
Iris Halus:
6 siung bawang merah
2 batang serai, ambil putihnya
3 cm lengkuas
4 buah cabai merah
Haluskan:
3 cm kunyit, bakar
1 sdm daging buah keluwak
1 sdt asam jawa
1 sdt garam
Cara Membuat:
1. Lumuri ikan dengan keluwak dan asam yang telah dicairkan dengan sedikit air. Biarkan beberapa saat agar bumbu meresap.
2. Panaskan minyak, tumis semua bumbu hingga harum. masukkan air, rebus hingga mendidih.
3. Tambahkan ikan kedalam rebusan bumbu, masak dengan api kecil hingga daging matang. Angkat dan sajikan hangat.
Untuk 4 Porsi

8. Kenus Mebase (Bali)

Bahan:
700 gr cumi-cumi, bersihkan, potong-potong
300 ml kaldu
2 sdm air jeruk nipis
1 sdt lada halus
3 sdm minyak goreng
4 siung bawang merah, iris halus
2 lembar daun salam
2 batang serai, memarkan
2 lembar daun jeruk purut
1 sdm air asam jawa
Haluskan:
5 buah cabai merah
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih
2 cm jahe
3 cm, kunyit, bakar
1 buah tomat
1 sdt ketumbar
5 buah kemiri
1 sdt terasi
1 sdt gula pasir
1 sdt garam garam
Cara Membuat:
1. Lumuri cumi dengan air jeruk nipis, lada dan garam. Biarkan beberapa saat agar bumbu meresap. Sisihkan.
2. Panaskan minyak, tumis semua bumbu hingga harum. Masukkan kaldu, cumi-cumi, air jeruk dan garam, masak hingga cumi matang dan kuah mengental. Angkat dan sajikan panas sebagai lauk nasi.
Untuk 4 Porsi

9. Ikan Mas woku (Sulawesi Utara)

Bahan:
1 kg ikan mas, bersihkan
2 sdm air jeruk nipis
4 lembar daun jeruk purut
1 lembar daun pandan, simpulkan
2 lembar daun jintan, iris halus
1 batang daun bawang, iris halus
15 lembar daun kemangi
1 lbr daun kunyit, simpulkan
2 batang serai, memarkan
200 cc air
Minyak goreng secukupnya
Haluskan:
6 bh cabai merah
10 buah cabai
2 cm kunyit, bakar
2 cm jahe
3 buah tomat
7 butir kemiri, sangrai
1 sdt garam
Cara Membuat :
1. Lumuri ikan dengan garam dan air jeruk nipis. Biarkan beberapa saat. Goreng ikan hingga matang dan kuning kecokelatan.
2. Panaskan minyak, tumis semua bumbu hingga harum. tambahkan air, masak hingga mendidih.
3. Masukkan ikan, daun, tebal dan daun kemangi. Masak dalam api kecil hingga ikan matang. Angkat dan sajikan.
Untuk 3 Porsi

10. SATE BANDENG (Banten)

Bahan :
700 gr ikan bandeng
1 butir telur, kocok lepas
¼ butir kelapa, sangria, haluskan
100 ml santan kental
1 sdt garam
Haluskan:
7 siung bawang merah
4 siung bawang putih
4 buah cabai merah
½ sdm ketumbar, sangrai
½ sdt jintan, sangrai
2 cm jahe
1 cm, lengkuas
2 cm kunyit
1 sdt asam
1 sdt garam
1 sdt gula pasir
Cara Membuat:
1. Pukul-pukul ikan hingga ikan empuk. Keluarkan daging bandeng dari rongga insang. Haluskan dagingnya dan buang duri-durinya.
2. Campur daging bandeng dengan telur, kelapa halus dan semua bumbu. Aduk rata.
3. Ambil kulit bandeng, isikan campuran di atas ke dalam badan bandeng. Lumuri badannya dengan sisa bumbu. Bungkus dengan daun pisang dan bakar di atas bara api hingga matang. Angkat, potong-potong dan sajikan.
Untuk 4 Porsi.


Sumber :
Budi Sutomo, S.Pd
http://budiboga.blogspot.com/2006/06/10-resep-hidangan-seafood-populer.html
27 Juni 2006

Racikan Seafood Praktis untuk Sehari-hari

SUKA makanan laut tetapi ogah mengolahnya? Tak perlu khawatir, dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh di pasar swalayan, Anda bisa mempraktikkannya di rumah. Racikan minggu ini adalah resep rahasia Chef Steven Yau Chin Fai dari Grand Ocean, Jl HR Muhammad, untuk sajian Oriental Kitchen di Sinar Supermarket Darmo Satelit.

Kendati diakui Steven, banyak orang enggan mengonsumsi kerang hijau (crassostrea gigas) karena berpikir warna hijau muncul karena penyakit, parasit, atau pengaruh tembaga di air.

Menurut penelitian, warna hijau tersebut disebabkan tumbuhan yang menjadi makanan utama kerang. “Semacam alga berwarna hijau,” kata Steven. Sehingga kulitnya berubah menjadi hijau, selain karena kerang ini hidup di karang di perairan asin (laut) atau air payau. Jadi, tak berbahaya dikonsumsi manusia.

Padahal, kerang hijau kaya protein, zat besi, kalsium, dan vitamin A. Seperempat kilogram kerang hijau rata-rata sama kandungan gizinya dengan seperempat liter susu atau setengah kilogram roti. Tak heran bila di Eropa, kerang hijau jauh lebih mahal dibanding jenis kerang lainnya.

Cara pengolahan kerang juga beragam. Bisa dimakan mentah, diasap, direbus, dipanggang, digoreng, bahkan sebagai tambahan minuman. Rasa olahan kerang hijau pada resep ini terasa kenyal di antara kuah kaldu ikan yang segar.

Racikan lainnya adalah ikan salmon gulung saus Jepang. Ikan salmon kaya lemak omega-3 yang baik bagi otak. Diolah bersama jamur enoki yang renyah ketika dimakan. Pilih jamur enoki yang berwarna putih segar.

Sebelum diolah, potong pangkal jamur. Kalau dipakai sebagai tambahan masakan, masukkan paling belakang atau tidak terlalu lama mengolahnya. Sebab akan terasa keras. Jamur mungil ini merupakan sumber vitamin D dan sedikit vitamin B-komplek bagi tubuh. ida


Sup Kerang Hijau Kaldu Ikan
Bahan:

500 gr kerang hijau (ambil dagingnya)
500 gr daging dan tulang ikan
300 ml susu cair
4 sdm gula
100 gr wortel, jamur merang, dan kentang
Garam dan merica secukupnya

Membuatnya:

1.Daging dan tulang ikan direbus lalu saring untuk diambil kaldunya. Sisihkan.
2.Rebus wortel, jamur merang, dan kentang secara terpisah. Tiriskan, lalu campur dengan kaldu ikan menjadi kuah sup.

3.Rebus kerang hijau selama lima menit di tempat terpisah. Setelah matang, potong dagingnya sesuai selera.

4.Campur kuah sup dengan potongan daging kerang hijau. Sajikan hangat.

Ikan Salmon Gulung Saus Jepang
Bahan:

1 ekor ikan salmon fillet
Jamur enoki (mirip taoge) secukupnya
Wortel, potong panjang tipis atau diserut
Garam dan merica hitam secukupnya
Saus yakiniku siap pakai

Membuatnya:

1.Letakkan jamur enoki dan serutan wortel di atas salmon fillet. Taburi campuran garam dan merica hitam di atasnya. Gulung dan sisihkan.

2.Tuang minyak goreng secukupnya di atas wajan datar. Goreng salom gulung sambil dibolak-balik selama tiga menit hingga salmon berubah warna kecokelatan, angkat, tiriskan. Santap dengan saus yakiniku yang beraroma bawang putih.



Sumber :
http://www.surya.co.id/2009/02/14/racikan-seafood-praktis-untuk-sehari-hari.html

Seafood Dalam Jeratan Prestis, Mitos, dan Gaya Hidup

Ancaman terbesar bagi dunia kelautan adalah penangkapan berlebihan (overfishing), selain itu pola konsumsi yang tidak cerdas dapat menciptakan permintaan yang tinggi akan spesies-spesies yang seharusnya dikurangi tingkat konsumsinya atau bahkan tidak dikonsumsi sama sekali seperti Ikan Napoleon, hiu dan semua produk-produk turunannya, serta penyu dan semua produk-produk turunannya.

Penelitian seorang doktor dari Unversitas Aberdeen mengungkapkan bahwa hiu peka akan perubahan gelombang permukaan, dan perubahan suhu. Dengan kepekaannya ini, hiu sebagai salah satu biota laut yang menempati rantai makanan paling atas, ternyata mampu mendeteksi badai. Hiu sangat sensitif dalam mendeteksi perubahan tekanan udara, sehingga gejala awal pembentukan badai dari perubahan tekanan udara di permukaan laut dapat ditengarai dari perilaku hewan tersebut.

Kemampuan hiu tersebut ternyata tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari badai perdagangan sirip hiu. Sebanyak 8000 ton sirip hiu diperdagangkan setiap tahunnya di seluruh dunia, yang berarti kepunahan bagi banyak spesies hiu serta ancaman bagi keberlangsungan keseimbangan ekosistem laut karena terganggunya rantai makanan. IUCN menyebutkan sebanyak 16 dari 21 jenis hiu mengalami kepunahan akibat perburuan ilegal dan tangkap-lebih. Salah satu motif konsumsi sirip hiu adalah prestis, mitos awet muda, mitos kandungan obat, serta mitos-mitos lainnya yang tidak pernah terbukti secara medis.

Selain mitos, gaya hidup masyarakat penggemar seafood turut mengantar beberapa jenis ikan eksotis pada kepunahan. Semakin langka satu jenis ikan, semakin sulit ikan itu dicari, semakin mahal harganya, maka semakin bangga pula manusia yang mampu membelinya. Kerapu tikus atau kerapu bebek (Barramundi cod) sudah sulit ditemukan oleh penyelam rekreasi, namun masih bias ditemukan dalam aquarium di beberapa restoran yang menjualnya dengan harga tujuh ratus ribu rupiah atau lebih per kilogram.

Penyu juga mengalami situasi yang sama sulitnya dengan hiu. Perburuan daging dan telur penyu, serta tangkapan-sampingan (by-catch) telah mengurangi populasi hewan ini secara drastis. Tangkapan-sampingan pada penyu banyak terjadi pada perikanan tuna rawai (long line) yang masih menggunakan jenis pancing J (J-hook), dan pukat udang. WWF dalam pernyataan pers baru-baru ini menyampaikan bahwa “Solusi masalah ini sudah tersedia, yaitu penggunaan Turtle Excluder Device (TED) untuk perikanan pukat udang dan pancing lingkar atau circle hook untuk perikanan tuna long-line," ujar Wawan Ridwan, Direktur Program Kelautan WWF-Indonesia. "TED sudah diatur penggunaannya, tapi pengawasannya masih kurang. Sedangkan circle hook harus segera diwajibkan penggunaannya, karena mampu mengurangi by-catch penyu sampai 85% dibandingkan pancing tuna biasa," lanjutnya.

Penegakan hukum oleh aparat diharapkan dapat menjadi solusi yang berjalan paralel dengan inovasi di bidang perikanan. Data pada tahun 2007 menyebutkan sebanyak 184 kapal yang ditangkap dari 2.207 kapal yang diperiksa, 89 diantaranya merupakan kapal dengan bendera asing sedangkan 95 sisanya merupakan kapal berbendera Indonesia. Dari penangkapan tersebut diselamatkan aset negara dan lingkungan sebesar Rp. 439.6 Miliar. (aul/ds)


Sumber :
http://wwfid.panda.org/tentang_wwf/upaya_kami/marine/publication/newsarchive/?1660
16 September 2008

Cara Memilih Kepiting Hidup?

Rasane Seafood Aslinya Kepiting Asap (SCTV)

Seafood Padang

Di Padang? Ya makanan Padang! Begitu umumnya fallacy yang berlaku setiap kali kita berkunjung ke Padang. Seolah-olah di Kota Padang hanya ada masakan Minang yang memang sudah kondang, bahkan melintasi batas negara. Tradisi merantau urang awak pun membuat rumah makan padang hadir di mana-mana. Setiap ada simpang tigo atau simpang ampek, pastilah ada rumah makan padang. Kecuali di bulan! Karena di bulan belum ada persimpangan jalan.

Kenyataan bahwa Padang berada di tepi laut mestinya menunjukkan bahwa di kota ini tentulah tersedia berbagai sajian hasil laut yang berkualitas. Jernihnya kawasan samudra di Timur kota ini – setidaknya bila dibandingkan dengan kondisi laut di Pantai Utara Jawa – juga merupakan testimonial bagi hasil laut yang bermutu.

Pulau Sikuai yang dapat dicapai dengan perahu cepat dalam waktu 45 menit dari Padang pun tampaknya hanya populer di kalangan wisatawan asing yang membaca informasi tentang pulau ini di buku panduan Lonely Planet. Baru belakangan ini Pulau Sikuai mulai menjadi tujuan wisata memancing bagi para penggemar memancing. Pulau Mentawai yang lebih jauh pun sudah sejak lama dikenal sebagai “gudang” lobster yang diburu para eksportir.

Kunjungan terakhir saya ke Padang mengungkap temuan beberapa rumah makan yang menyajikan sajian hasil laut juara. Begitu terpukaunya saya oleh kualitas masakan di beberapa rumah makan itu, sampai saya tak habis pikir. “Ke mana saja saya selama ini bila berkunjung ke Padang?”

Masakan Minang sebetulnya menampilkan cukup banyak ikan. Tetapi, kebanyakan yang dihadirkan adalah ikan darat, seperti: ikan mas, nila, mujair, dan gurami. Dari kawasan laut, ikan kakap terutama hadir kepalanya saja dalam masakan populer gulai kepala ikan. Ikan kembung biasanya hanya digoreng atau disajikan sebagai balado. Di rumah-rumah makan yang menyandang tulisan “Pauh Piaman” (dari Desa Pauh, dekat Pariaman), juga banyak terhidang gulai atau masakan asam pedas dari ikan tenggiri dan tongkol.

Tetapi, apa tidak bosan bila selama beberapa hari di Padang kita selalu makan masakan Minang untuk makan malam dan makan siang? Itulah sebabnya kali ini sengaja saya tulis tentang beberapa tempat yang khusus menyajikan seafood.

Tempat pertama yang menjadi rekomendasi saja adalah RM “Djoni/Kun” di Muara, masih termasuk kawasan Chinatown-nya Padang. Warungnya sangat sederhana – dengan tiga meja panjang dengan bangku-bangku panjang yang sering dipenuhi para tamu. Ketika singgah ke sana, muncul kreativitas saya untuk mengangkat sebuah meja kecil dan kursi ke seberang warung, supaya tempat duduk saya langsung berada di tepi Sungai Batang Arau. Asyik! Serasa di Venezia!

Sajian andalan “Djoni/Kun” adalah ikan bakar santan. Kebanyakan para tamu memilih ikan kerapu yang dibakar, kemudian dilumuri dengan saus santan kental berwarna jingga, dan kemudian dibakar lagi. Tidak hanya unik, tetapi juga istimewa. Ketika berkunjung ke sana, saya memesan ikan pari sebesar telapak tangan untuk dibakar dengan santan. Maklum, ikan kerapunya terlalu besar untuk dimakan sendiri. Ternyata, pari bakar santan itu pun hadir istimewa.

Djoni membawa seekor udang kipas ke meja saya. Ia memuji kesegaran udang yang baru didapatnya tadi pagi. “Saya goreng dengan sambal petai, ya?” katanya menawarkan. Sungguh taktik yang jitu. Saya langsung menyerah. Klepek-klepek.

Tak lama kemudian, sajian itu datang. Tampilannya sungguh memesona. Udang kipasnya dibelah, kemudian digoreng. Sambal goreng petai kemudian dituangkan di atasnya sebagai topping. Mak nyusssss!

Udang kipas memiliki kualitas daging yang sungguh lembut dan mulus. Sekalipun harganya lebih murah daripada lobster, tetapi rasanya jauh mengalahkan lobster. Kalau Anda nanti menjumpai udang kipas, tubruk saja langsung. Dijamin tidak akan menyesal.

Saya harus mengakui bahwa “Djoni/Kun” punya kualitas masakan di atas rata-rata. Inilah tempat yang saya rekomendasikan untuk makan seafood di Padang. Ia selalu sedia segala macam ikan, udang, lobster, cumi-cumi, dan kepiting. Djoni pun lihai menampilkan segala jenis masakan untuk mengolah seafood.

Di Padang sejak beberapa lama ini juga telah hadir sebuah seafood foodcourt. Semula bernama “Nagoya”, kini setelah ganti manajemen menjadi “Enagoya”. Semua kios yang bergabung di sana harus menampilkan menu seafood. Tidak heran bila di sana ada satu gerobak penjual martabak telur yang isinya bukan daging kambing atau daging sapi, melainkan ikan dan udang. Rasanya? Mirip seafood omelette. Tidak jelek, tetapi agak memaksa.

Di “Enagoya” saya terpesona dengan kualitas sup ikannya. Sangat mirip dengan sup ikan di Batam. Harum, bening, isinya irisan tipis daging ikan yang hanya dimasak sebentar dalam kuah yang gurih. Setelah diangkat dari api, dimasukkan beberapa potongan daun selada. Aroma minyak wijen membuat sup ikan ini sungguh istimewa. Saya baru kemudian sadar bahwa rupanya pemilik terdahulu adalah orang Batam yang punya rumah makan di kawasan Nagoya.

“Enagoya” adalah tempat makan murah-meriah dengan kualitas yang cukup baik. Setidaknya, kehadiran seafood pada aras foodcourt akan membuat sajian ini makin populer di Padang.

Tempat ketiga tampil lebih elite, berlokasi di kawasan Taplau (Tapi Lauik alias Tepi Laut). Padang adalah kota yang beruntung – sebagaimana halnya Makassar – karena memiliki pantai yang indah di tengah kota. Sayangnya, entah bagaimana cara berpikir para pemikir tata kota Padang, keindahan pantai itu “dirusak” dengan bangunan-bangunan untuk menempatkan para penjaja makanan. Dulunya, di sepanjang jalan itu bermunculan para penjual rujak, es tebak, dan jagung bakar. Karena dianggap tenda-tenda mereka tidak seragam, Pemda Kodya Padang pun melakukan penataan dengan membangun kios-kios yang seragam. Memang rapi. Tetapi, halloooo, di mana dong pantainya? Oh, di balik kios-kios itu?

Pembinaan memang kadang-kadang berbatas tipis dengan pembinasaan.

Restoran yang saya maksud di Taplau ini letaknya justru di seberang jalan yang di pinggir pantai – tempat yang memang seharusnya untuk me-“lokalisasi” para pedagang makanan maupun suvenir. Restoran ini menempati sebuah bangunan berlantai tiga, bernama “Nelayan”.

Bila melihat daftar menu “Nelayan”, sajiannya sangat mirip dengan yang dapat kita jumpai di restoran-restoran serupa di Jakarta, seperti “Pondok Laguna” di kawasan Pecenongan. Ada lumpia seafood, tahu kipas, dan sebangsanya.

Tetapi, bila sedikit teliti membaca menu, kita akan menemukan items baru yang jarang dijumpai di tempat lain. Misalnya, kailan tumis blacan. Dipilih kailan yang masih muda, sehingga sangat renyah dan tidak berserat. Mengesankan!

Ikan kerapu bakar bawang putih yang saya pesan tampil mengagumkan. Ketika datang, ingatan saya langsung melayang pada hidangan “Hutong”, sebuah restoran mewah di Hong Kong – yaitu ikan utuh yang dipanggang dalam oven, dengan taburan bawang putih cincang goreng dan kacang tanah goreng yang ditumbuk kasar.

Di “Nelayan”, kerapunya dibakar sempurna, sehingga menghasilkan daging yang lembut dan manis, tanpa gosong. Bawang putih cincang yang digoreng sempurna pun melengkapi keistimewaan hidangan ini. Biasanya, bila bawang putih belum matang digoreng, yang muncul adalah citarasa pedas. Sebaliknya, bila terlalu gosong digoreng, rasanya berubah pahit. Di “Nelayan”, bawang putih cincang digoreng dengan pas, berwarna kuning keemasan, dan manis rasanya. Mak nyusss!

Jangan lewatkan!


Sumber :
http://travel.kompas.com/read/2009/02/23/14343344/Seafood.Padang
23 Februari 2009

BBQ Lobster, Clam, Shrimp & Fish Seafood Recipe for the Grill